Kamis, 24 September 2026
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
NEWSLETTER
PajakOnline.com
 
  • Home
  • Pusat Data
    • Peraturan Pajak
    • Putusan
    • Tax Treaty
    • Alamat Kantor Pajak
    • Kurs Pajak
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi PajakOnline
  • Login
  • Daftar
  • Home
  • Pusat Data
    • Peraturan Pajak
    • Putusan
    • Tax Treaty
    • Alamat Kantor Pajak
    • Kurs Pajak
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi PajakOnline
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
PajakOnline.com
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil

PMK 55/2026 Dipersoalkan: Apakah Kewajiban Uji Kompetensi Kemenkeu Melampaui Wewenang Undang-Undang?

Redaksi PajakOnline oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
in Belajar Pajak, Berita, Business, Headlines, Perpajakan, Sorotan
9.8k 200
0
PMK 55/2026 Dipersoalkan: Apakah Kewajiban Uji Kompetensi Kemenkeu Melampaui Wewenang Undang-Undang?
8k
Dibagikan
10k
Dilihat
Share on FacebookShare on XShare on Whatsapp

Oleh Muhammad Irvan, S.Ak., M.A, Praktisi Perpajakan PajakOnline
Alumni Pascasarjana (S-2) Ilmu Administrasi dan Kebijakan Perpajakan Universitas Indonesia (UI).

Jakarta, PajakOnline — Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 55 Tahun 2026 tentang Konsultan Pajak dan Pihak Lain yang Bertindak sebagai Kuasa Wajib Pajak membawa perubahan besar dalam tata kelola profesi konsultan pajak di Indonesia.

Salah satu ketentuan yang berpotensi menimbulkan perdebatan adalah kewajiban calon konsultan pajak untuk memiliki Surat Keterangan Kompetensi atau SKK yang diperoleh setelah mengikuti dan dinyatakan lulus uji kompetensi di bidang perpajakan yang diselenggarakan Unit Pengelola di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Persoalan semakin menarik ketika ketentuan tersebut diterapkan terhadap lulusan sarjana perpajakan yang secara akademik memang dididik secara khusus untuk menguasai ilmu perpajakan.

Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah lulusan sarjana perpajakan boleh menjadi konsultan pajak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah Menteri Keuangan dapat mensyaratkan lulusan pendidikan tinggi yang telah memperoleh kompetensi akademik perpajakan untuk kembali membuktikan kompetensinya melalui ujian yang diselenggarakan pemerintah, apabila kewenangan tersebut tidak diperintahkan secara tegas oleh undang-undang?

Baca Juga:

DJP Bantah Isu Kebocoran Data Wajib Pajak

Restitusi Pajak Dijamin Cair, DJP Tegaskan Proses Tetap Selektif dan Terukur

DJP Dorong Cooperative Compliance, Pengawasan Pajak ke Pencegahan Berbasis Data

Belanja Perpajakan 2026 Diproyeksikan Rp563,6 Triliun

Utang Warisan Krisis 1997–1998 Tuntas, Kewajiban BLBI Dilunasi Agustus 2026

Pertanyaan tersebut penting karena menyentuh batas antara kewenangan regulasi pemerintah, otonomi pendidikan tinggi, pengakuan kompetensi akademik, dan pembatasan akses terhadap suatu profesi.

Salah satu poin krusial yang paling menyedot perhatian publik hukum dan akademisi adalah pengenalan syarat mutlak berupa Surat Keterangan Kompetensi (SKK).

Surat ini hanya dapat diperoleh setelah calon konsultan pajak atau kuasa perpajakan dinyatakan lulus uji kompetensi di bidang perpajakan yang diselenggarakan oleh Unit Pengelola di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Penerapan kewajiban ini secara merata (blanket requirement) tanpa mengecualikan atau membedakan lulusan Sarjana (S-1) maupun Pascasarjana (S-2/S-3) Perpajakan memunculkan persoalan normatif yang mendasar:

Apakah Menteri Keuangan memiliki kewenangan untuk mewajibkan pengujian kompetensi ulang terhadap lulusan perguruan tinggi sah, serta apakah skema ini sejalan dengan hierarki perundang-undangan di Indonesia?

Pertanyaan ini bukan sekadar mengenai resistensi profesi terhadap ujian tambahan, melainkan menyangkut batas-batas legitimasi kewenangan regulasi pemerintah (delegated authority), pengakuan atas Sistem Pendidikan Nasional, serta kepastian hukum (legal certainty).

1. Dialektika Norma: Konstruksi Hirarki UU KUP vs. PMK 55/2026

Untuk membedah kompleksitas masalah ini, kita harus melihat benturan norma antara undang-undang utama perpajakan dengan peraturan pelaksananya.

A. Konsep Opsi Alternatif dalam UU KUP / UU HPP

Dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) sebagaimana telah diubah terakhir melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), frasa mengenai syarat kuasa Wajib Pajak dirancang dengan prinsip fleksibilitas yang terukur.

UU KUP menetapkan bahwa kompetensi di bidang perpajakan dibuktikan melalui frasa komulatif-alternatif “dan/atau”, yang mencakup tiga pilar:

Jenjang pendidikan tertentu (misalnya ijazah S-1/D-4 Akuntansi atau Perpajakan);

Sertifikasi kompetensi/profesi; dan/atau

Pembinaan oleh Kementerian Keuangan.

Desain norma undang-undang ini tegas memberikan pengakuan sah kepada lulusan pendidikan formal berjenjang untuk dapat langsung memegang kualifikasi kompetensi dasar perpajakan.

B. Penyempitan Norma Tunggal oleh PMK 55/2026

Melalui PMK 55 Tahun 2026, pemerintah menyaring ketiga opsi tersebut menjadi jalur tunggal berbasis sertifikasi via ujian.

Dalam PMK ini, kepemilikan SKK mewajibkan keikutsertaan dalam uji kompetensi teknis Kemenkeu, di samping ujian profesi yang diadakan oleh Asosiasi Konsultan Pajak.

Secara implisit, PMK 55/2026 melakukan pengkerdilan norma (normative restriction), mendeduksi nilai ijazah formal, lulusan program studi perpajakan terakreditasi disamakan kedudukannya dengan pihak yang tidak bermata kuliah perpajakan sama sekali.

Mengubah karakter hukum frasa “dan/atau”: Opsi alternatif yang dibuka UU disempitkan menjadi syarat mutlak tunggal di tingkat Peraturan Menteri.

2. Analisis Hukum Administrasi Negara: Potensi Ultra Vires

Ditinjau dari asas pembentukan peraturan perundang-undangan (UU No. 12 Tahun 2011), kewenangan Menteri Keuangan bersifat delegated legislation yang bersumber dari konsideran Pasal 259 UU Nomor 4 Tahun 2023 (UU PPSK) serta PP Nomor 50 Tahun 2022.

(Tabel/gambar terlampir)

Meskipun Pasal 259 ayat (6) UU PPSK dan PP 50/2022 memberikan mandat pembinaan dan perizinan profesi kepada Kemenkeu, delegasi kewenangan tidak boleh diartikan sebagai blank check (kewenangan tanpa batas).

Menguji ulang kualifikasi akademik yang telah diterbitkan oleh Perguruan Tinggi yang sah di bawah Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) tanpa perintah eksplisit dari UU di atasnya berpotensi menempatkan PMK 55/2026 dalam kategori tindakan ultra vires.

Gelar Sarjana Perpajakan Seolah Belum Dianggap Sebagai Bukti Kompetensi

Pendidikan tinggi bukan sekadar proses memperoleh selembar ijazah. Dalam pendidikan akademik, seseorang mengikuti kurikulum, mata kuliah, evaluasi, ujian, tugas akhir, dan proses pembelajaran yang dirancang untuk membentuk kompetensi lulusan.

Bagi program studi perpajakan, substansi pendidikannya bahkan secara langsung berhubungan dengan hukum pajak, administrasi perpajakan, akuntansi perpajakan, perpajakan internasional, pemeriksaan pajak, perencanaan pajak, dan berbagai bidang lain yang menjadi bagian dari praktik perpajakan.

Oleh karena itu, ketika seorang lulusan S-1 Perpajakan dinyatakan lulus oleh perguruan tinggi yang sah, muncul pertanyaan mengenai nilai hukum dari kompetensi akademik tersebut.

Apakah kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan tinggi dapat langsung dinyatakan belum cukup hanya karena belum mengikuti ujian yang diselenggarakan Kemenkeu?

Ataukah pemerintah sebenarnya hanya membutuhkan mekanisme tambahan untuk memastikan bahwa kompetensi akademik tersebut relevan dengan praktik perpajakan terkini?

Dua pertanyaan tersebut menghasilkan konsekuensi hukum yang berbeda.

Jika pemerintah hanya melakukan standardisasi tambahan, maka uji kompetensi dapat dipandang sebagai mekanisme quality assurance.

Tetapi apabila keberadaan uji tersebut pada akhirnya membuat kompetensi akademik lulusan perpajakan seolah-olah tidak memiliki nilai untuk mengakses profesi, maka kebijakan tersebut layak diuji dari sisi proporsionalitas, kewenangan, dan kepastian hukum.

Jika lulusan S-1 Perpajakan diwajibkan mengikuti ujian kompetensi pemerintah tanpa adanya mekanisme pengakuan terhadap pendidikan yang relevan, maka pemerintah perlu memberikan argumentasi yang kuat mengenai mengapa kompetensi akademik tersebut tidak dianggap cukup atau belum memenuhi standar kompetensi profesi.

Hal ini penting untuk menghindari kesan bahwa regulasi hanya menciptakan “ujian tambahan” tanpa menjelaskan hubungan antara kurikulum pendidikan tinggi dan standar kompetensi yang ditetapkan pemerintah.

Jika tujuan pemerintah adalah memastikan kompetensi teknis, terdapat beberapa pilihan kebijakan.

Pertama, pemerintah dapat melakukan recognition of prior learning, yaitu mengakui pendidikan perpajakan tertentu sebagai pemenuhan kompetensi tertentu.

Kedua, pemerintah dapat menerapkan ujian penyetaraan bagi lulusan program studi yang kurikulumnya telah memenuhi standar kompetensi perpajakan.

Ketiga, pemerintah dapat menentukan bidang yang memang harus diuji karena berkaitan dengan perubahan regulasi, administrasi Coretax, prosedur kuasa Wajib Pajak, atau perkembangan hukum pajak terbaru.

Keempat, pemerintah dapat mempertahankan ujian profesi sebagai mekanisme untuk menguji kesiapan profesional, etika, dan praktik.

Pendekatan tersebut lebih proporsional daripada menganggap seluruh lulusan dengan latar belakang pendidikan perpajakan sebagai pihak yang secara default belum kompeten.

Oleh karena itu, ke depan sistemnya perlu dirancang agar pendidikan, pengalaman, sertifikasi, dan ujian tidak saling menegasikan.

Ruang Evaluasi terhadap Substansi Kebijakan Kompetensi

Kemenkeu, perguruan tinggi penyelenggara pendidikan perpajakan, asosiasi profesi, praktisi, dan akademisi perlu duduk bersama untuk menentukan standar kompetensi yang benar-benar diperlukan.

Sebab tujuan akhirnya bukan memperbanyak ujian.

Tujuan akhirnya adalah menghasilkan konsultan pajak yang kompeten, profesional, berintegritas, dan mampu memberikan perlindungan kepada Wajib Pajak sekaligus mendukung kepatuhan perpajakan nasional dan meningkatkan penerimaan negara.

Jika seorang sarjana perpajakan tetap harus diuji ulang, pemerintah harus mampu menjelaskan secara transparan kompetensi apa yang belum diakui, mengapa belum diakui, dan atas dasar kewenangan hukum apa kompetensi tersebut harus diuji kembali.

Pertanyaan itu penting karena dalam negara hukum, setiap pembatasan terhadap warga negara termasuk pembatasan untuk memasuki suatu profesi, tidak cukup hanya memiliki tujuan yang baik. Dasar kewenangan, prosedur, substansi, proporsionalitas, dan kepastian hukumnya juga harus dapat dipertanggungjawabkan.

Bagikan3200Tweet2000Kirim

Baca Berita

Sebanyak 204 Juta Data Pribadi Pemilih di KPU Bocor Dibobol Hacker, Dijual Rp1,2 Miliar

DJP Bantah Isu Kebocoran Data Wajib Pajak

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan membantah...

DJP: Restitusi Hak Wajib Pajak, Pencairan Capai Rp185 Triliun hingga Juli 2026

Restitusi Pajak Dijamin Cair, DJP Tegaskan Proses Tetap Selektif dan Terukur

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Pemerintah memastikan hak wajib pajak atas pengembalian...

Sinergi Kemenkeu dan BPKP Perkuat Pengawasan APBN

DJP Dorong Cooperative Compliance, Pengawasan Pajak ke Pencegahan Berbasis Data

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terus mendorong pendekatan...

Belanja Perpajakan 2026 Diproyeksikan Rp563,6 Triliun

Belanja Perpajakan 2026 Diproyeksikan Rp563,6 Triliun

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Pemerintah memproyeksikan belanja perpajakan (tax expenditure) 2026...

Satgas BLBI Sita Aset Obligor Trijono Gondokusumo

Utang Warisan Krisis 1997–1998 Tuntas, Kewajiban BLBI Dilunasi Agustus 2026

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Pemerintah memastikan kewajiban surat utang yang diterbitkan...

PNBP Februari Lebih Tinggi 2,28 Persen Dibandingkan Tahun Sebelumnya

Kemenkeu: Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Gejolak Global

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Kementerian Keuangan menilai perekonomian Indonesia masih menunjukkan...

Sanksi Pajak Tak Bisa Jadi Pengurang Penghasilan

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen pada Triwulan II 2026, Menkeu Suahasil Jaga Momentum Pertumbuhan

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Oleh: Eka L. Prasetya, Pemimpin Redaksi PajakOnline Jakarta, PajakOnline ­—...

BI Gencarkan Transaksi Non Tunai Cegah Covid-19

Rupiah Jadi Perhatian Pasar, Menanti Arah Kebijakan Bank Indonesia

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika...

Pemerintah Siapkan Pajak Marketplace, Berlaku Mulai 1 November 2026

Pemerintah Siapkan Pajak Marketplace, Berlaku Mulai 1 November 2026

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Pemerintah memastikan pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal...

Menkeu Suahasil Lantik Pejabat Baru DJP dan Bea Cukai

Menkeu Suahasil Lantik Pejabat Baru DJP dan Bea Cukai

oleh Redaksi PajakOnline
22 September 2026
0

Jakarta, PajakOnline — Pemerintah memastikan pemungutan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 melalui...

Muat berita lainnya
Buku Abdul Koni: Uang Pajak Harus Berkah.

Member of

PajakOnline Services

Untuk Layanan Advokasi, Konsultan Pajak, Pendampingan di Pengadilan Pajak, Anda dapat menghubungi konsultan kami melalui komunikasi HP/WA 0821-8078-1907.

Mars Tax Payer Community

https://news.pajakonline.com/wp-content/uploads/2023/09/Lagu-Mars-Patriot-Pajak-Tax-Payer-Community.mp3

Tax Payer Conference 2026

Visit PajakOnline ke DJP

Jajaran pimpinan media PajakOnline bersilaturahmi dengan Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Rosmauli, Selasa (11/11/2025) di Kantor Pusat DJP, Jakarta.

Alamat Kantor Pajak

Event

Ketua Tax Payer Community Abdul Koni dalam acara Tax Goes to Campus memberikan materi kesadaran pajak bagi mahasiswa./PajakOnline.com
Ketua Tax Payer Community Abdul Koni dalam acara Seminar Pajak bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI)./PajakOnline.com
Ketua Tax Payer Community Indonesia Abdul Koni dalam acara Arcadia Chat Room yang dipandu Host Syamsu Rizal memperingati Hari PajakNasional 2023./PajakOnline.com
Workshop PajakOnline bertema Pajak Patuh, Indonesia Cerah di Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Banten, Selasa (11/3/2025)./PajakOnline.com
PajakOnline dalam Tax Payer Charter.
Workshop PajakOnline bersama Asperindo.
Tax Payer Community Goes to School di SMK Ksatria, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Workshop PajakOnline bersama members.
Tax Payer Community bersama Kanwil DJP Jakarta Barat.
Ketua Tax Payer Community Abdul Koni dalam materi Kesadaran Pajak./PajakOnline.com
Workshop PajakOnline bersama IWAPI Jakarta Timur./PajakOnline.com
Workshop PajakOnline bersama Pemprov DKI Jakarta.
Workshop PajakOnline bersama Perempuan Pemimpin Indonesia (Indonesia Women's Leader Association) atau Perpina, Kamar Dagang dan Industri Indonesia.
Workshop Meet-Up PajakOnline bersama Inge Diana Rismawanti: Peran Strategis Pengusaha Wanita Tingkatkan Penerimaan Pajak, Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat di Manhattan Hotel, Kuningan, Jakarta Selatan Selasa (6/12/2022).
Workshop PajakOnline bersama Pengusaha Muda INTI (Indonesia-Tionghoa).
Workshop PajakOnline bersama Perhimpunan Indonesia-Tionghoa.

Tentang Kami

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

Berita Pajak, kami melayani Jasa Konsultasi, Advokasi Perpajakan, Pembuatan SPT, Pembukuan, dan Lain-lain. Hubungi HP/WA: 0821-8078-1907

Kita Bangga dapat berpartisipasi dalam pemerataan pembangunan nasional dan bantuan sosial.

Member of

PajakOnline.com adalah media berbasis komunitas pembayar pajak yang berhimpun dalam Masyarakat Pembayar Pajak Indonesia (Tax Payer Community). Pajak adalah gaya hidup. Membayar pajak menjadi Kebanggaan kita bersama.

 

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

© Since 2006 Media PajakOnline. All rights reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Pusat Data
    • Peraturan Pajak
    • Putusan
    • Tax Treaty
    • Alamat Kantor Pajak
    • Kurs Pajak
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi PajakOnline

© Since 2006 Media PajakOnline. All rights reserved.