PajakOnline.com—Pemulihan ekonomi domestik terus berlanjut menuju perbaikan signifikan. Di tengah dinamika kasus Covid-19, ekspor dan impor tumbuh tinggi, sejalan dengan pertumbuhan pada konsumsi listrik dan rumah tangga, Indeks Kepercayaan Konsumen, dan PMI Manufaktur.
Pertumbuhan ekonomi Kuartal-II diproyeksi tumbuh tinggi, didukung peningkatan berbagai indikator ekonomi seiring momentum lebaran dan faktor base effect. Kinerja APBN sampai dengan Mei 2021 jauh lebih baik dari pada periode yang sama tahun sebelumnya, di mana pendapatan negara mengalami pertumbuhan signifikan dari yang semula terkontraksi sebesar 9,0 persen (yoy) menjadi 9,3 persen (yoy) didukung pertumbuhan Pajak dan PNBP serta terjaganya penerimaan Kepabeanan dan Cukai. Begitupun dari sisi belanja negara yang tumbuh dari negatif 1,4 persen (yoy) menjadi 12,1 persen (yoy) didorong tingginya Belanja Pemerintah Pusat dan membaiknya TKDD.
“Belanja negara kita yang meningkat dan mendukung pemulihan ekonomi masih perlu diperbaiki juga dari sisi kualitasnya. Jangan sampai kita membelanjakan namun masyarakat atau ekonomi tidak merasakan atau kurang merasakan manfaatnya. Jadi ini kualitas dari belanja dan eksekusi yang sering ditekankan oleh Bapak Presiden menjadi sangat penting, kerja detail kerja di lapangan,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN Kita secara virtual Edisi Juni 2021.
Optimalisasi pendapatan dan peningkatan kualitas belanja negara terus dilakukan sejalan dengan kinerja pembiayaan APBN yang terjaga serta penurunan SILPA jika dibandingkan dengan bulan April 2021. APBN terus bekerja keras untuk melanjutkan momentum perbaikan ini, seiring dengan langkah antisipatif penanganan pandemi melalui pelaksanaan vaksinasi yang lebih masif, serta penguatan 3T dan 3M. Demikian disampaikan pada publikasi APBN Kita edisi Juni 2021.
Aktivitas masyarakat di kuartal-II sempat melampaui level sebelum pandemi, didorong oleh aktivitas di supermarket dan peritel saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Hal ini juga berdampak pada peningkatan konsumsi rumah tangga yang diproyeksikan kembali ke zona positif pada kuartal-II.
Selanjutnya, tingkat kepercayaan masyarakat kembali meningkat mencapai 104,4, dibanding bulan sebelumnya pada angka 101,5 yang mencerminkan optimisme konsumen terhadap penguatan kondisi ekonomi, dan penurunan tingkat penyebaran kasus Covid-19 pada bulan Mei.
Selain itu, indikator RSI menunjukkan keberlanjutan pemulihan konsumsi masyarakat pada April dan diprediksi meningkat pada Mei 2021, atau tumbuh 12,9 persen (yoy), ditopang oleh peningkatan konsumsi pada seluruh kelompok, termasuk pada penjualan mobil ritel yang tumbuh tinggi pada bulan Mei, mencapai 54,8 ribu unit, sebagai indikasi perbaikan tingkat konsumsi masyarakat kelas menengah.
Selanjutnya, indikator konsumsi listrik pada bulan Mei 2021 kembali tumbuh positif double digit di angka 16,6 persen (yoy), tumbuh hampir di semua sektor yang menunjukkan adanya recovery ekonomi.
Indeks PMI Manufaktur kembali mencatat rekor, yaitu mencapai 55,3 didorong oleh pertumbuhan solid pada permintaan baru, output dan purchasing, yang sekaligus mendorong pertumbuhan serapan tenaga kerja. Dari sisi perdagangan internasional, Neraca Perdagangan Indonesia melanjutkan tren positif dengan surplus USD2,36 miliar pada bulan Mei 2021, atau tumbuh 17,9 persen (yoy).
Kinerja ekspor tumbuh dua digit, yaitu meningkat sebesar 58,8 persen (yoy), terutama didorong peningkatan harga komoditas dan juga pertumbuhan volume barang yang diperdagangkan.
Kinerja impor juga menunjukkan pertumbuhan positif yaitu meningkat 68,7 persen (yoy), terutama dari impor bahan baku yang didorong peningkatan kebutuhan aktivitas investasi khususnya bangunan dan penanganan pandemi pada impor barang konsumsi, serta peningkatan impor barang modal yang didorong pertumbuhan impor mesin untuk produksi sektor strategis.



































